Gelap-gelapan di Goa Pindul, Merinding Tapi Senang

Goa Pindul
Goa Pindul

Menyusuri goa di siang hari saja, area di dalamnya gelap. Gimana kalau di malam hari? Pasti lebih merinding, sekaligus memicu adrenalin, deh. Tapi, perasaan yang campur aduk itu justru bikin senang.

Kalau tidak percaya, boleh buktikan sendiri. Berwisata menyusuri gelapnya goa Pindul di Gunung Kidul, Yogyakarta, misalnya. Kegiatan ini biasanya mulai dilakukan saat senja mulai tiba. Dibutuhkan waktu sekitar satu jam untuk menyusuri Goa Pindul, sehingga saat keluar goa, hari sudah gelap.

Untuk menyusuri Goa Pindul, kita harus menggunakan pelampung dan ban dalam (tube), lantaran seluruh dasar goa terendam air sungai bawah tanah dengan kedalaman 5 – 12 meter. Setiap orang duduk dengan posisi setengah telentang di atas ban dalam yang sudah dikaitkan satu sama lain, dan kemudian ditarik oleh pemandu.

Sepanjang menyusuri goa, Harno (45), salah seorang pemandu menceritakan detail goa yang dibagi tiga berdasarkan pencahayaan. Pertama, wilayah terang yang dapat dinikmati dengan mata telanjang. Di sini, kita dapat leluasa melihat keindahan stalaktit dan stalagmit goa yang begitu memukau dengan jelas.

Selanjutnya adalah wilayah remang-remang. Di sini Harno perlu menyalakan senter untuk mengetahui jalan, terutama saat berada di wilayah gelap total. Soalnya, kalau tidak pakai senter, ban bisa terbentur batu berbentuk tiang, hasil pertemuan antara stalaktit dan stalagmit yang menyebabkan lorong menyempit.

Tapi…, eh, tiba-tiba Harno mematikan senter! Seketika gelap gulita pun menyelimuti goa. Sebelum masuk goa, Harno bercerita, nama Goa Pindul bermula dari kisah Joko Singlulung yang mencari ayahnya. Joko menelusuri goa dalam gulita, hingga suatu kali pipinya membentur dinding goa. Tercetuslah nama “Pindul”, akronim dari pipine kejendul, bahasa Jawa yang artinya pipinya terantuk.

Untung saja perlahan kondisi makin terang, meski senter belum dinyalakan. Terlihat sebuah lubang di atas gua yang kata Harno itu lubang surga. Saat tengah hari, sinar matahari menerobos lubang dan jatuh di permukaan sungai. Sinar yang menembus uap air menimbulkan efek kabut nan cantik. ”Itulah yang kami sebut cahaya surga,” ujar Harno.

Tapi, kalau hari sudah gelap, pemandangan cahaya surga ini jelas tidak dapat dinikmati. Sebagai gantinya, kita akan melihat cahaya bulan samar-samar.

Petualangan belum rampung! berlanjut dengan tantangan untuk river tubing di Kali Oyo. Sungai sepanjang 1 kilometer ini berjarak sekitar 1,5 kilometer dari Goa Pindul. Karena hari sudah malam, saat tiba di tepi sungai, suasana gelap gulita. Memasuki sungai harus dilakukan dengan berjalan tertatih menapaki batu-batu sungai nan licin.

Di musim kemarau dan air sungai sedang surut, kedalaman sungai sekitar 3 meter. Tapi kalau di musim hujan, kedalaman sungai bisa mencapai 10 meter.

Di sini Harno kembali menyalakan senter dan menarik rangkaian ban, menyusuri sungai. Dengan bantuan sinar senter, sensasi mengambang di air sungai yang terasa hangat pun dapat dinikmati.

Bintang di langit sesekali terlihat. Lalu, tiba-tiba di kanan-kiri sungai muncul cahaya kelap-kelip. Cahaya-cahaya itu melambung, lalu turun mendekati permukaan air sungai, kemudian menghilang di antara semak-semak. Itulah kunang-kunang yang datang memperindah malam.

“Jika kunang-kunang bertahan hidup, berarti udara sekitarnya tidak terpolusi, begitu pelajaran di sekolah saya dulu. Air Kali Oyo ini juga jernih dan bersih. Bisa untuk minum,” kata Harno.

Perjalanan menyusuri Kali Oyo akan menemui dua air terjun yang dinamai warga Air Terjun Pengantin. Konon, dulu kala ada sepasang muda-mudi yang ingin menikah, tapi tidak mendapat restu. Mereka lalu mandi dan bertapa di air terjun ini, hingga hati orangtua mereka luluh. Mandi di air terjun ini juga dipercaya bisa memperlancar jodoh.

Sesampai di pemberhentian river tubing, bulan muncul di antara dedaunan bambu. Badan kedinginan karena basah dan tertiup angin, tapi hati hangat karema bahagia.

Wisata Goa Pindul dan paket river tubing Kali Oyo dibuka sekitar tahun 2000. Warga berhimpun dan bergotong royong membentuk penyedia jasa yang melayani pengunjung. Para operator atau pemandu dilatih selama tiga bulan. Mereka harus menguasai kisah Goa Pindul, teknik berenang yang benar, serta pertolongan awal jika terjadi kecelakaan.

Sekarang ini terdapat sembilan penyedia jasa. Sekitar 150 keluarga mendapat nafkah dari berkembangnya penyedia jasa yang memasang tarif Rp.35.000,- untuk paket susur Goa Pindul dan Rp.45.000,- untuk river tubing Kali Oyo.

author
Author: 
    Mau Snorkeling Aman? Baca Ini!
    Melihat dunia bawah laut itu asyik. Soalnya, benar-benar beda dengan yang kita lihat

    Leave a reply "Gelap-gelapan di Goa Pindul, Merinding Tapi Senang"